Sabtu, 29 Desember 2012

Skripsi Strategi Mengajar Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 26/III Sungai Abu


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Berbicara masalah sumber daya manusia, sebenarnya dapat dilihat dari dua aspek yaitu kualitas dan kuantitas. Kualitas menyangkut sumber daya manusia (penduduk) yang sangat penting dalam kontribusinya dalam pembangunan. Bahkan kuantitas sumber daya manusia dapat disertai dengan kualitas yang baik akan menjadi beban pembangunan suatu bangsa. Sedangkan kualitas menyangkut mutu sumber daya manusia tersebut, yang menyangkut kemampuan fisik maupun kemampuan non fisik (kcerdasan dan mental). Oleh karena itu, untuk kepentingan akselerasi suatu pembangunan di bidang apapun, maka peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan persyaratan utama.
Kualitas sumber daya manusia menyangkut dua aspek, yakni aspek fisik (kualitas fisik), dan aspek non fisik (kualitas non fisik) yang menyangkut kemampuan kerja, berfikir dan ketrampilan lain[1]. Oleh sebab itu upaya peningkatan sumber daya manusia ini juga dapat diarahkan kepada kedua aspek tersebut. Untuk meningkatkan kualitas fisik dapat diupayakan melalui program-program kesehatan gizi. Sedangkan untuk meningkatkan kualitas atau kemampuan non fisik tersebut, maka upaya pendidikan dan pelatihan adalah yang paling diperlukan. Dengan demikian, peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia dapat diciptakan melalui pendidikan.
Pendidikan merupakan dasar usaha terencana untuk membentuk perkembangan potensi dan kemampuan agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai pribadi, sebagai masyarakat maupun sebagai warga Negara. Pendidikan akan dapat membawa kemajuan bagi setiap individu menjadi manusia yang sempurna. Melalui pendidikan itu juga akan dapat membawa kemajuan individu dalam berbagai bidang bahkan akan mengangkat derajatnya di sisi Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah dalam surat Al-mujadilah ayat 11 :


[1] Zahara Idris, Pengantar Pendidikan 2, (Jakarta : PT Gramedia, 1992), h. 15
Artinya :
“Niscaya Allah akan meninggalkan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.[1] (QS. Al-mujadilah : 11)
Pendidikan berarti juga pewaris kebudayaan dari generasi kegenerasi agar hidup bermasyarakat, mempunyai nilai-nilai budaya yang ingin disalurkan dari generasi kegenerasi agar identitas masyarakat tersebut lebih terpelihara.
Suatu Negara, baik itu Negara yang sudah maju ataupun yang baru berkembang, sangatlah diutamakan kebutuhan akan layanan pendidikan. Kemajuan suatu Negara tentu tidak lepas dari adanya manusia yang terdidik dan terampil. Begitu juga Negara Indonesia yang merupakan Negara berkembang dan sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan, baik itu pembangunan dibidang yang bersifat fisik ataupun yang bersifat non fisik, termasuk pembangunan dibidang pendidikan khususnya pendidikan agama Islam. Pendidikan agama dan keagamaan yang dijelaskan di dalam PP. Nomor 55 tahun 2007 adalah “ Suatu pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian, dan ketrampilan peserta didik dalam mengamalkan agamanya, yang dilaksanakan sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran/kuliah pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan”.[2]
Undang-undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menjelaskan suatu tujuan pendidikan nasional adalah (“…..untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serat bertanggung jawab…”).[3]
Salah satu wadah untuk menciptakan manusia yang berpendidikan tanpa melihat latar belakang budaya, tingkat sosial ekonomi siswa yang terlibat di dalamnya ialah sekolah. Usaha peningkatan mutu pendidikan agama Islam yang dapat dilakukan guru agama sebagai agen perubahan adalah melalui kegiatan pembenahan kinerja guru di sekolah dengan wadah pembinaan kelembagaan, kurikulum, ketenagaan, sarana dan prasarana serta perubahan sistem lainnya. Kenyataan menunjukkan bahwa tingkat kemajuan sekolah sangat ditentukan oleh sejauh mana tingkat kinerja guru di sekolah, khususnya guru pendidikan agama Islam. Keberhasilan di sekolah ditunjukkan dengan kinerja guru dalam proses  mengajar baik itu mengajar pendidikan agama maupun pendidikan umum. Oleh sebab itu, guru agama Islam harus memahami dan mengembangkan ketrampilan dalam melaksanakan kemajuan.
Pekerjaan pembelajaran membutuhkan pendidikan dan pelatihan, oleh sebab itu sekarang pengajar perlu menguasai berbagai kemampuan baik kemampuan bidang ilmu agama, teknologi dan pembelajaran. Semua kemampaun tersebut dipacu menjadi suatu wawasan yang utuh ketika seorang berada di depan kelas.


[1] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Toha Putra, 1989) H.910
[2] Depag RI.No.55 tahun 2007, Tentang Pendidikan Agama dan Agama (Jakarta:Depag RI, 2007)h.228
[3] UU RI No 20 tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan, (Jakarta : Rineka Cipta, 2006),h 15-16
Dalam hal ini yang lebih berperan dalam penyajian bahan ini adalah seorang guru, guru harus mempunyai kompetensi, kualifikasi akademik, sertifikasi pendidikan sehat jasmani dan rohani, sebagaimana yang dijelaskan dalam UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Undang-undang guru dan dosen bahwa “ Seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, kualifikasi pendidikan, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.[1]
Keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan agama Islam banyak tergantung pada bagaimana proses yang dialami siswa sebagai anak didik dalam belajar, namun yang jelas keberhasilan siswa merupakan sebagian utama dari penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran di sekolah.
Setiap siswa dalam proses belajar mengajar mempunyai hasil yang berbeda-beda, dalam pedagogik perbedaan individu ini harus diterima / merupakan prinsip dalam setiap situasi pendidikan. Pendidik atau guru selalu berhadapan dengan anak yang konkrit yang tidak ada bandingannya dengan anak yang lain. (Dr.H.J Langeveld menyebut prinsip individualisasi).[2]
Penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah pada umumnya hanya ditujukan pada para siswa yang berkemampuan rata-rata, sehingga siswa berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan, sehingga siswa yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian, siswa-siswa yang kurang berkategori di luar rata-rata itu (sangat pintar dan sangat bodoh) tidak mendapat kesempatan yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kapasitas atau kemampuannya.
Dari sini kemudian timbul apa yang disebut kesulitan belajar yang tidak hanya menimpa siswa yang berkemampuan rendah saja tetapi juga dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi. Meskipun kesulitan belajar juga dapat dialami oleh siswa yang berkemampuan rata-rata (normal).[3]
Di SDN 26/III Sungai Abu yang seluruh peserta didiknya beragama Islam seharusnya siswa mempunyai perhatian yang sama terhadap semua mata pelajaran umum maupun mata pelajaran agama. Tetapi pada kenyataannya siswa lebih memperhatikan pelajaran umum, seperti mata pelajaran Matematika, IPA dan lain-lain, sedangkan terhadap pelajaran Agama, perhatian siswa sangat kurang, sehingga kelihatan mereka sangat sulit untuk belajar agama dengan serius.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka penulis merasa tertarik untuk meneliti permasalahan yang berkenaan dengan judul skripsi “Strategi Mengajar Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 26/III Sungai Abu”.


[1] UU RI. No. 14 Tahun 2005, Tentang Undang-undang Guru dan Dosen, (Jakarta : Cemerlang, 2005), h. 8

[2] Abu Ahmadi. Drs, Psikologi Belajar. (Jakarta : Rineka Cipta, 2004), h. 150
[3] Ibid, h. 182
A.    Batasan dan Rumusan Masalah
1.      Batasn Masalah
Penelitian ini hanya membatasi masalah strategi guru pendidikan agama Islam dalam mengatasi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Mengingat pada mata pelajaran ini, siswa tidak begitu aktif dalam belajar di SDN 26/III Sungai Abu.
Kelas yang diteliti adalah kelas IV, kelas V dan kelas VI. Hal ini disebabkan masih ditemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN 26/III Sungai Abu.

2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka masalah pokok yang muncul dalam penelitian ini adalah :
1.      Apa faktor penyebab kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN 26/III Sungai Abu.
2.      Bagamana strategi yang digunakan guru pendidikan agama Islam dalam mengatasi kesulitan belajar siswa pada masa pelajaran pendidikan agama Islam SDN 26/III Sungai Abu.
3.      Apa kendala guru pendidikan agama Islam dalam mengatasi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama islam di SDN 26/III Sungai Abu.

B.     Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.      Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Ingin mengetahui faktor penyebab kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN 26/III Sungai Abu.
2.      Ingin mengetahui strategi mengajar guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam pada SDN 26/III Sungai Abu.
3.      Ingin mengetahui kendala guru dalam mengatasi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN 26/III Sungai Abu.

2.      Kegunaan Penelitian
a.       Sebagai bahan masukan dan pertimbangan bagi guru di SDN 26/III Sungai Abu dalam melakukan strategi mengatasi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam.
b.      Sebagai materi untuk menambah wawasan berfikir dan sebagai pengembangan ilmu pengetahuan bagi penulis.
c.       Sebagai syarat guna mencapai gelar Sarjana Strata (S.1) dalam ilmu pendidikan agama Islam pada Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kerinci.

C.    Metodologi Penelitian dan Teknik Penulisan.
1.      Populasi dan Sampel
Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik di SDN 26/III Sungai Abu tahun pelajaran 2010/2011 sebanyak 72 orang, sedangkan sampelnya 15% dari 72 orang yaitu sebanyak 30, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut ini :
Tabel. 1
Jumlah Populasi dan Sampel
Kelas
Populasi
Sampel
Laki
Wanita
JML
Laki
Wanita
JML
IV
V
VI
10
12
15
12
10
13
22
22
28
5
5
5
5
5
5
10
10
10
JML
37
35
72
15
15
30

2.      Sumber Data
Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah :
a.       Kepala SDN 26/III Sungai Abua.       Guru-guru SDN 26/III Sungai Abu
b.      Para Pelajar/Murid di SDN 26/III Sungai Abu
1.      Teknik Pengumpulan Data
a.       Observasi
Observasi merupakan suatu cara untuk mengumpulkan data tentang evaluasi proses mengajar yang dilakukan oleh para pendidik secara sistematis dan sengaja melalui proses pengamatan dan pencatatan mengenai permasalahan tersebut.
Teknik Observasi digunakan untuk mengamati anak sesuai dengan strata, dengan mengamati fenomena-fenomena yang ada di arena penelitian. Sebagai metode ilmiah observasi biasanya diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistem fenomena-fenomena yang diselidiki.
b.      Wawancara
Teknik Wawancara digunakan untuk mengambil data terhadap tabel dengan menggunakan berbagai macam bentuk pertanyaan yang diajukan mengenai aspek-aspek yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini, dengan cara bertanya atau mencari langsung para responden dengan menggunakan pedoman wawancara.
Interview (wawancara) sebagai suatu proses Tanya jawab lisan, yang mana terdiri dari dua orang atau lebih berhadapan secara fisik yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengar dengan telinga sendiri suaranya tampaknya merupakan alat pengumpulan informasi yang langsung tentang beberapa jenis data sosial baik yang terpendam maupun yang menipis.
c.       Dokumentasi
Dokumentasi diambil untuk memperoleh data yang didokumentasikan dan catatan-catatan yang ada di sekolah yang dianggap perlu.
2.      Analisa Data
Setelah data terkumpul dengan baik, data yang diperoleh dari lapangan dan perpustakaan diklasifikasikan sesuai dengan pokok masalah,kemudian data tersebut diperiksa dan diselidiki kembali secara cermat (editing) data yang memakai metode wawancara dan pengamatan di analisa dengan pola pikir :
a.       Metode induktif, metode ini bertitik tolak dari uraian yang bersifat khusus kemudian di tarik kesimpulan yang bersifat umum.
b.      Metode deduktif, metode ini bertitik tolak dari faktor yang bersifat umum kemudian menarik suatu kesimpulan kepada yang bersifat khusus.
c.       Metode komperatif, metode ini membandingkan suatu pendapat dengan pendapat yang lain, kemudian mengambil suatu kesimpulan dari pendapat tersebut.

B.     Sistematika Penulisan
Skripsi terdiri dari lima bab. Bab I merupakan pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, perumusan dan batasan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika penyusunan.
Pada Bab II merupakan gambaran umum tentang SDN 26/III Sungai Abu yang meliputi histories dan geografis, keadaan struktur organisasi, sarana dan prasarana, keadaan guru dan siswa.
Pada Bab III merupakan tinjauan teoritis tentang Pengertian Mengajar, Pengertian Pendidikan, Pengertian Pendidikan Agama Islam, Dasar Pendidikan Agama Islam, Tujuan Pendidikan Agama Islam.
Bab IV dipaparkan tentang hal Pelaksanaan Mengajar Pendidikan Agama Islam, Apa faktor penyebab kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agam Islam di SDN 26/III Sungai Abu, Apa strategi mengajar guru pendidikan agama Islam dalam mengatasi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN 26/III Sungai Abu, Apa kendala guru pendidikan agama Islam dalam mengatasi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di SDN 26/III Sungai Abu.
Bab V yang merupakan penutup dari kesimpulan dan dilengkapi dengan saran-saran.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar